Pengambil Alihan Kekuasaan

Pengambil Alihan Kekuasaan

Kota Bandung – kota Jakarta pusat.

Saudara-saudaraku se bangsa dan sesama pribumi yang tidak dapat kami jangkau langsung ke depan pintu toko/kios/warung/kantor/dll mohon bantuan donasi saudara melalui rekening kami di bank Cimb NIAGA  a/n Sudirman Nomor Rekening : 762905651500

Hub. Whatsapp : 0812 7662 7188

Pengambil alihan kekuasaan tidak sama dengan perebutan kekuasaan. Pengambil alihan kekuasaan dilakukan dengan dasar pertimbangan (kebijaksanaan) yang matang bagi keselamatan dan kesinambungan negara. Sedangkan perebutan kekuasaan atau Coup de etat (kudeta); bahasa Prancis adalah pengambilan kekuasaan secara paksa dan kasar.

Soeharto karena dia notonegoro ke 2, maka dia di anggap mengambil alih kekuasaan setelah Soekarno mundur sebelum masa jabatannya berakhir yang dilanjutkan dengan kebijaksanaan yang matang oleh Majelis/MPRS setelah menilai dua peristiwa bait penting dalam buku Jayabaya yakni peritiwa G 30 S PKI 1965 (para jenderal dibawah Soekarno sdh gugur) dan demo Super semar 1966 (Soekarno mengundurkan diri melalui Super semar).

Dua alasan di atas menjadi bahan pertimbangan disetujuinya usulan Soehartto oleh MPRS sebab MPR menyadari bahwa Soeharto adalah notonegoro k 2, dan karena adanya 2 peristiwa nasional yang dibuatnya. Dan demi keselamatan rakyat dan negara.

Seperti halnya Bj Habibie lengser dari kekuasaan akibat kerusuhan antar agama berdarah yang dibuat oleh Megawati Soekarnoputri di Ambon dan Maluku. Peristiwa tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi MPR untuk menempuh kebijaksanaan  memberhentikan

Bj. Habibie sebagai presiden sebelum masa waktu jabatannya habis dan Gusdur dipilih oleh MPR menjadi presiden. upaya Megawati belum tuntas, karena Gusdur masih duduk di istana sedangkan dia sadar bahwa masa/waktunya sebagai notonegoro 4 sudah berlangsung dan dipakai oleh Bj. Habibie dan Gusdur sehingga diapun menghabisi guru mengaji tidak berdosa di Banyuwangi Jawa Timur, maka lengserlah Gusdur dari istana negara sebelum masa jabatannya berakhir dan dia Megawati Soekarno dipilih oleh MPR sebagai presiden. Tindakan MPR menempuh voting di gedung MPR dan membatalkan pemilu presiden tahun 1999 dlm memilih megawati soekarnoputri adalah sebuah kebijaksanaan yang ditempuh oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Jadi terpilihnya Megawati karena dua peristiwa nasional yang dibuatnya seperti yang terdapat dalam bait-bait buku Jayabaya dan MPR sadar bahwa Megawati Soekarno adalah notonegoro ke 4. Dan demi keselamatan rakyat dan negara Indonesia.

Empat peristiwa dari dua presiden notonegoro (2 dan 4) tersebut di atas adalah prosedur kudeta berdarah tetapi  diarahkan bukan langsung pada penguasa sebagai rival politik sehingga tidak dapat disebut sebagai kudeta atau kup, tetapi pengalihan perhatian pada MPR agar MPR mengambil langkah bagi notonegoro. Sehingga keputusan MPR dalam memilih presiden dan melengserkan pihak lain (pengambil alihan kekuasaan) adalah masih termasuk MPR menyetujui pengambil alihan kekuasaan bukan kudeta, karena peristiwa berdarah bukan terjadi di lingkungan istana kepresidenan tetapi diluar istana dan diarahkan pada orang yang tidak bersalah atau tidak berdosa. Tapi ingat kalau bukan notonegoro yang lakuakan ini maka  MPR tidak meloloskan apapun peritiwanya sebab dalam UUD 1945 Indobesia tidak mengenal hukum kudeta. jadi jangan coba tiru.

Bait-bait yang menjadi pedoman Soeharto dan Megawati Soekarnoputri dalam upaya mengambil masa/waktunya sebagai presiden notonegoro yang terdapat dalam buku Jayabaya dapat dilihat pada uraian berikut :

bait 128 (Soeharto)

“tutup tahun Jawa delapan tiga sembilan delapan tiga tahun masehi sembilan enam-enam(1966) tertutup kuali berlumut (topi baja) terkurung oleh lumut laut” (peristiwa demo supersemar 1966)

bait 129 (Soeharto)

“itulah pasukan semut hijau yang kehilangan semut merah tujuh dimasukkan sumur jalatundha yang banyak buayanya itulah lambang datangnya zaman orang kaya merasa takut orang banyak mengaku-aku jadi priyayi orang jahat semakin senang orang baik semakin susah” (Peristiwa G 30 S PKI)

bait 136 (Megawati Soekarnoputri)

“banyak hujan turun salah musim banyak perawan tua, banyak janda hamil banyak bayi tanpa ayah banyak orang menentang agama banyak orang kehilangan kemanusiaan rumah suci dibenci, rumah maksiat dipuja wanita tampil berani dimana-mana” (peritiwa pembunuhan guru mengaji di Banyuwangi)

bait 137 (Megawati Soekarnoputri)

“wanita asal wanita ternyata kehilangan suami laki-laki mati tanpa kabar berita dan tempatnya banyak orang meninggal tidak disembahyangi petugas agama mengungsi takut mati yang mengurusi orang mati malah dibikin mati” (peristiwa kerusuhan antar agama berdarah di Ambon dan Maluku 1999)

Masa/waktu notonegoro ke 4 (Megawati Soekarnoputri Jilid II) :

Pada bait 136 dan bait 137 di atas, adalah isi pedoman untuk Megawati Soekarnoputri untuk Masa/waktu Jilid I, sedangkan berikut ini akan kami jelaskan bait  untuk pedoman bagi masa/waktu Jilid II dari Megawati Soekarnoputri. Bait-bait tersebut adalah bait 157-158. Sedangkan bait 172 (bait yang diambil dari Masa/waktu notonegoro ke 5 & 6 (Sudirman & Roh) oleh Megawati Soekarno dalam memalsukan masa/waktu dari notonegoro ke 5 &6 Sudirman & Roh.

Modus Karakteristik Perbuatan Megawati Soekarnoputri pada masa jilid II adalah Megawati mendelegasikan masa/waktunya sebagai presiden notonegoro ke 4 kepada oknum lain yakni dengan cara mempromosikan walikota Solo menjadi Gubernur DKI kemudian mempromosikan menjadi presiden Jokowi.

Selanjutnya Jokowi dianalogikan seolah-olah dia notonegoro ke 5 & 6 (Sudirman & Roh). jadi modusnya adalah hendak menghilangkan jejak notonegoro ke 5 & 6 yang asli di pentas politik nasional Indonesia, padahal itu hal yang mustahil sebab notonegoro 5 & 6 juga mempunyai bait-bait yang berguna untuk mengambil masa/waktunya sebagai presiden Indonesia yang akan datang dengan cara pengambil alihan kekuasaan seperti halnya Soeharto dan Megawati Soakarnoputri di atas.

Berdasarkan kriteria waktu atau lamanya berkuasa bagi para notonegoro asli adalah minimal 2 (dua) periode seperti SBY dan paling lama 30 tahun seperti Soeharto. Megawati Soekarnoputri pada jilid I sudah menjalani masa/wakyunya sebagai notonegoro selama 1 (satu) periode, kemudian ditambah masa/waktunya pada masa/waktu jilid II yang mana didelegasikan pada Jokowi selama 1 (satu) periode juga yakni periode ke satu masa pemerintahan Jokowi jadi sudah cukup dua periode, nah sekarang Jokowi menginjak pada periode ke 2 jadi periode kedua Jokowi ini adalah sudah masa/waktu kami notonegoro ke 5 & 6 (Sudirman & Roh). Jadi kalau menurut pedoman buku Jayabaya Jokowi harus lengser sebelum masa jabatannya berakhir karena itu pedoman kami semua.

Di periode ke dua Jokowi saat ini, tidak ada lagi kaidah yang mengikat atau melindungi dia sebab sudah keluar dari bait 172, dengan kondisi seperti itu pihak yang berwenang yang dapat membantu notonegoro ke 5 & 6 untuk mengam8bil masa/waktunya sebagai notonegoro dengan tanpa kendala sebab masa/waktu notonegeoro ke 4 jilid II sudah terlaksana pada periode ke 1 Jokowi. Dapn pihak yang berwenang akan dilindungi keselamatannya dari ancaman pihak lain yang ingin menghalangi pihak berwenang dalam hal ini MPR. Karena menurut buku Jayabaya khusus untuk bait-bait notonegoro ke 5 & 6 (bait 159 – 173) diantara  bait itu tertera bahwa yang menghalangai akan hancur dan sirna sebaliknya yang membantu akan dilindungi beserta seluruh keluarganya.

Kami coba melanjutkan penjelasan kami mengenai mengapa ada notonegoro yang masanya hanya 2 periode atau 10 tahun saja dan ada samapi mencapai 30 tahun jawabannya adalah bahwa menurut bait bait buku Jayabaya bahwa ada notonegoro yang bersifat merusak dan ada yang bersifat membangun sehingga yang bersifat membangun atau menyelamatkan dan memperbaiki serta memajukan, harus diberi waktu yang lebih lama periode kepemimpinannya dibanding notonegoro yang bersifat merusak.

Perlu juga dikemukakan bahwa mengapa para notonegoro sangat antusias menuntut masa/waktunya agar segera terlasksana? jawabanya adalah bahwa menurut penjelasan dalam bait buku Jayabaya bahwa masa waktu masing-masing sudah diatur karena berkenaan dengan umur para notonegoro dan faktor sangsi dan atau keberhasilan. pengertiannya adalah pertama jika dilaksanakan apa yang diperintahkan dalam pedoman maka akan berhasil seratus persen, sebaliknya jika dilanggar atau melewati masa /waktu yang harus dilakukan tetapi dilampaui, maka akan terjadi sanksi atau teguran seperti bencana atau wabah. sehingga mengapa pada periode ke dua Jokowi terjadi bencana atau wabah corona d 19? itu karena disebabkan Jokowi melalui perbuatan Megawati Soekarno yang melampaui masa/waktu yang ada dalam buku Jayabaya yang seharusnya berhenti di periode ke 1 Jokowi malahan dilanjutkan ke periode ke 2  Jokowi maka terjadilah bencana wabah sebagai konsekwensi pelanggaran bait yang ada dalam buku Jayabaya tersebut.

Sedangkan faktor umur atau usia dalam pedoman buku Jayabaya bahwa dari notonegoro ke 1 sampai notonegoro ke  5 & 6 sudah ada masa/waktu  yang diberikan masing-masing untuk menjalankan tugasnya sebab jika terlalu tua baru mulai mengambil masa/waktunya maka dalam menjalankan masa atau  tugasnya nanti akan kurang efektif dan bisa tidak mencapai keberhasilan sebagaimana yang diharapkan untuk masa depan bangsa Indonesia (rakyat dan wilayah Indonesia) tentunya.

Kami terlambat menyampaikan ini oleh karena mohon maaf pada yang mulia Majelis/MPR RI. Di periode pertama Jokowi kami sudah sering melakukan aksi untuk menuntut agar dia hanya sampai satu periode saja untuk berhenti menjadi presiden, tetapi suara kami belum di dengar waktu itu, sehingga kami khawatir jika akan terjadi bencana jika dia Jokowi menginjak masa periode ke 2, ternyata betul perkataan dan kekhawatiran saya dan banyak pihak yang pernah mendengar  omongan saya sebelum terjadinya wabah corona di dalam negeri dan dunia itu. Kata-kata kami wakjtu itu tiga bulan sebelum terjadinya wabah corona : “Jika Jokowi tidak segera berhenti menjadi presiden pada periode ke 2, maka akan terjadi bencana yang mengerikan”. Dan ternyata wabah memang terjadi tiga bulan kemudian setelah kami perkirakan berdasarkan ketentuan dalam bait buku Jayabaya. penjelasan mengenai wabah ini dapat juga dilihat pada menu lain dalam web ini.

Bait-bait yang digunakan oleh Sudirman dan Roh untuk mengambil masa waktunya sebagai presiden notonegoro ke 5 & 6 adalah sebagai berikut:

Bait 166 Sudirman dan Roh

Bait 164 Sudirman dan Roh

Bait 161 Sudirman dan Roh

Bait 171 Sudirman dan Roh

Presiden notonegoro bersifat subjektif tidak dapat terhalang mengambil masa/waktunya oleh peraturan perundangan apapun karena mengacu pada konvensi (hukum tidak tertulis)/buku Jayabaya yang merupakan pedoman para notonegoro dalam menjalankan masa waktu pemerintahannya.

Secara eksternal bersifat subjektif jika berhadapan dengan peraturan atau ketetapan apapun karena demi masa waktu yang terbatas,  dan demi keselamatan negara sehingga ditempuh kebijakan (kebijaksanaan) tetapi secara internal bersifat objektif  karena harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan manusia (7 kemaslahatan umat manusia: bangkit, adil,  berdaulat,  makmur, maju,  tentram dan damai) beragama murni (pemeluk agama yang tidak murtad/tidak mengakui komunis), tetapi bukan untuk manusia beragama tidak murni (pemeluk agama yang mengakui komunis/pemeluk agama murtad), sesuai bait 167 buku Jayabaya

Kebijakan (kebijaksanaan)  ditempuh untuk memperkaya peraturan/ketetapan/undang-undang khusus untuk demi keselamatan negara. Karena kita semua tahu bahwa peraturan perundangan lahir dari berbagai kebijakan.  Sebaliknya jika tindakan yang dilakukan oleh penguasa kelihatan menjurus ke ancaman dan berpotensi menghancurkan negara maka tidak ada kebijakan (kebijaksanaan) yang dapat ditempuh misalnya memerdekakan Aceh, memerdekakan Papua,  memerdekakan Jakarta,  menjual Kalimantan ke Cina, tidak akan ada kebijaksanaan. Kebijaksanaan membangun ibu kota negara di kalimantan adalah pelanggaran UUD 1945 pasal 7A, dan salah satu dari 31 ancaman Indonesia.

Adanya 31 ancaman yang mengintai Indonesia saat ini (sesuai bait 167 buku Jayabaya), dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh MPR dan KPU untuk menetapkan Sudirman dan Roh (notonegoro ke 5 & 6) untuk menjadi Presiden revolusi tahun 2024, setelah terlebih dahulu memberhentikan Jokowi dan Ma’ruf di akhir masa jabatannya, karena demi keselamatan negara, dan setelah uji materi oleh Mahkamah Konstitusi (MK), dan mendapat usulan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Jadi amanat yang harus dilaksanakan oleh notonegoro terakhir 5 & 6 (Sudirman & Roh)  setelah ditetapkan sebagai Presiden Revolusi pada tahun 2024 oleh KPU dan MPR, adalah membersihkan 31 ancaman yang mengintai Indonesia dan tercapainya 7 kemaslahatan ummat manusia beragama murni setelah dilaksanakannya revolusi (bait 165). Pads tahun 2024.

Proyeksi Kejadian Bencana pada Notonegoro lainnya

Untuk membuktikan Benar atau Salah jika dikatakan bahwa jika masa/waktu notonegoro diambil oleh notonegoro lain atau pihak lain baik disengaja oleh notonegoro maupun tidak disengaja oleh pihak lain dapat di buat proyeksi untuk membuktikan apakah benar terjadi sanksi berupa teguran atau hukuman yang berbentuk bencana atau wabah sebagaimana yang tertera di dalam bait buku Jayabaya ?. berikut dibuat uraian proyeksi.

Proyeksi I : Soekarno

18 – 08 – 1945 Soekarno Hatta langsung dilantik menjadi presiden pertama oleh majelis waktu itu sehari setelah proklamasi. Keberadaan masa/waktu Soekarno diusik sebagai notonegoro ke 1 melalui agresi militer Belanda yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia buntut dari kejadian itu maka terjadilah bencana paling buruk yakni tragedi kereta api maut di Surabaya, dan korban pembantaian 40.000 jiwa anak-anak berjenis kelamin laki-laki tidak berdosa oleh Westerling dan pasukannya di Sulawesi-Selatan.

Proyeksi II : Soeharto

Soekarno lengser sebagai presiden notonegoro pertama tahun 1967 sebelum masa/waktunya berakhir, dan dilanjutkan oleh Soeharto sebagai notonegoro kedua tahun itu juga. Jadi estafet antara Soekarno-Soeharto tidak ada pihak lain atau pihak yang menjadi presiden diantara dua notonegoro tersebut yang mengambil masa/waktu. Lalu dimana letak penyebab timbulnya teguran atau bencana sesuai bait yang ada dalam buku Jayabaya? jawabannya adalah bahwa Soekarno menjadi presiden notonegoro ke 1 selama 26 tahun, Soekarno seharusnya berhenti pada masa 20 tahun saja, sehingga masa 6 tahun tersebut adalah masa/waktu Soeharto yang diinjak oleh Soekarno. Akibat menginjak atau mengambil masa/waktu notonegoro ke 2 kurang lebih 6 tahun, maka terjadilah tragedi berdarah G 30 S/PKI yang mengorbankan 7 jenderal angkatan darat.

Proyeksi III : Megawati Soekarnoputri Jilid I

Soeharto menjabat presiden notonegoro ke 2 selama 32 tahun atau sebanyak 7 repelita, dimana satu repelita sama dengan lima tahun. Pada repelita ke 7 beliau lengser di tahun ke 2 masa jabatannya. Antara Soeharto-Megawati Soekarnoputri jilid I, masa/waktu Megawati jilid I dibatasi atau diantarai pertama oleh Bj. Habibie dan sebelumnya masa/waktu Megawati Soekarnoputri sudah diinjak selama 2 tahun oleh Soeharto yakni seharusnya Soeharto hanya menjabat selama 30 tahun, jadi 2 tahun terakhir masa jabatan Soeharto adalah sudah masa/waktu Megawati Soekarnoputri jilid I. Akibat masa/waktu notonegoro ke 4 jilid I diambil oleh Soeharto selama 2 tahun dan oleh Bj. Habibie 2 tahun, maka terjadilah bencana tragedi berdarah antar pemeluk agama di Ambon dan Maluku pada tahun 1999.

Lengsernya Bj. Habibie di era jilid I Megawati Soekarnoputri, dia belum megambil masa/waktunya sebagai notonegroro ke 4 karena pada waktu Bj. Habibie diberhentikan jabatannya oleh majelis/MPR Gusdur yang mengambil alih kekuasaan berdasarkan ketetapan majelis pada waktu itu. Megawati Soekarnoputri terus mengembangkan upaya agar masa/watunya sebagai notonegoro ke 4 dapat di capai sesegera mungkin. Akibat masa/waktunya dipakai atau diinjak oleh Gusdur maka terjadilah tragedi korban pembunuhan pada guru-guru mengaji di Kab. Banyuwangi Jawa Timur.

Proyeksi IV : Megawati Soekarnoputri Jilid II

Masa/waktu megawati jilid II telah tercapai selama 5 tahun melalui delegasi atau periode 1 jabatan pemerintahan Jokowi, dan 5 tahun juga berhasil pada jilid I sebelumnya. Dengan demikian maka telah mencapai 10 tahun masa/waktunya selaku notonegoro ke 4.

Namun pada periode 2 pemerintahan Jokowi yang sudah berlangsung selama hampir 3 tahun, itu berarti masa/waktu notonegoro ke 5 & 6 sudah di injak atau diambil oleh pihak lain secara sengaja oleh notonegoro ke 4.  Akibat perbuatan yang melanggar ketentuan dalam bait buku Jayabaya yang dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri bersama Jokowi, maka terjadilah bencana wabah Corona D19 yang menimbulkan ratusan ribu korban jiwa di Indonesia dan dunia.

kesimpulan :

Proyeksi di atas dapat membuktikan bahwa benar kalau masa/waktu notonegoro dilanggar baik oleh sesama notonegoro maupun oleh pihak lain baik disengaja atau secara tidak disengaja akan timbul bencana.

Setiap notonegoro mengemban Visi dan misi untuk negara Indonesia 

Soekarno menjalankan masa/waktunya selama 20 tahun untuk memandu kemerdekaan yang diemban, sampai pada titik stabil ini dapat di buktikan dari bayaknya ancaman terhadap kemerdekaan sesudah tahun 45 yakni banyak pihak yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Soeharto kemudian 30 tahun membangun sesudah Soekarno menyelesaikan masa/waktunya. Soeharto membangun dari nol sebab di era Soekarno nyaris tidak ada pembangunan sebab menjelang akhir masa/waktunya, ia menyebarkan ideologi komunis dimana tentu kita tahu bahwa ajaran komunis salah satu di antaranya adalah memiskinkan rakyat. Pembangunan Soeharto nampak secara fisik namun sayangnya pembangunan secara ekonomi condong ke etnis non pribumi yakni etnis cina. Akibatnya ekonomi dikuasai oleh non pribumi sampai sekarang, dan kaum pribumi makin terpuruk dan tidak jelas masa depannya.

Soesilo Bambang Yudoyono (SBY) kemudian menjalankan masa/waktunya selama 10 tahun dan sejak awal kepemimpinannya sampai akhir masa jabatannya, bencana terjadi dari sabang sampai merauke. Kerusakan alam dan infrastruktur tidak terelakkan ini menandakan bahwa pembangunan Soeharto diuji hingga tersisa berapa persen saja, dan memerlukan pemulihan (recovery).

Megawati Soekanoputri menjalankan masa/waktunya selama dua periode satu periode sebelum SBY dan satu periode sesudah SBY. kerusakan pun tetap terjadi hutan dan lingkungan terkuras disertai degradasi lingkungan yang lebih miris adalah munculnya kembali paham (ideologi) komunis seperti di era Soekarno dan dampaknya pada ekonomi berhaluan komunis dan rakyat sekarang makin terpuruk kehidupan ekonominya di banding di era SBY.

Masa/waktu Sudirman dan Roh sudak masuk waktunya setelah masa/waktu Megawati Soekarnoputri jilid II (pada periode 1 Jokowi) selesai, namun hingga saat ini masih dipegang oleh Jokowi pada periode 2 sehingga timbul bencana wabah corona yang juga membuat ekonomi rakyat Indonesia (pribumi) makin terpuruk (periode 2 Jokowi adalah sudah masa/waktu Sudirman & Roh untuk menjalankan visi dan misi yang di emban yakni memperbaiki, menyelamatkan dan memajukan (membangkitkan) Indonesia.

Pada waktu mulai melaksanakan masa/waktunya atau mulai memimpin, ada notonegoro yang melalui pemilu dan ada yang tidak melalui pemilu 

Berdasarkan bait dalam buku Jayabaya, bahwa ada beberapa notonegoro yang mulai menjalankan masa/waktunya tidak melalai pemilihan umum (pemilu). Soekarno pada waktu mulai terpilih menjadi presiden pertama, tidak ada pemilu, kemudian Soeharto juga pada awal mula menjalankan masa/waktunya tidak melalui pemilu, begitu juga Megawati Soekarnoputri pada awal mula menjalankan masa/waktunya pada jilid I tidak melalui pemilu, kecuali hanya SBY yang wal mulanya menjalankan masa/waktunya, ia melalui pemilu dengan partainya bernama partai demokrat, di dalam bait buku Jayabaya dikenal dengan istilah “pendeta” = partai demokrat, sedangkan  arti kata “pendeta tua” = ketua partai demokrat.  Jadi partai demokrat itu ada dalam bait buku Jayabaya. Selanjutnya Sudirman dan Roh juga dalam buku Jayabaya pada waktu mulai menjalankan masa/waktunya tidak melalui pemilu ini dapat dilihat pada bait 171 dan bait 173.

Bait 121 : (Soekarno)

rumah tidak beraturan menghadap entah kemana oleh sebab itu hendaklah mengerti gelagat zaman harta-benda menumpuk tapi tidak memiliki kendaraannya berkali lima warnanya mirip wajah Baladewa bila naik berada diperut kendaraan.

(makna bait 121 diatas adalah pada zaman Soekarno pagar rumah berbentuk seragam atau teratur melambangkan 2 huruf  K satu menghadap kiri lainnya menghadap kanan atau (>I<) dibaca Komunis atau bisa juga dibaca PKI. Suatu waktu kala itu datang presiden Rusia ke Indonesia menanyakan pada Soekarno tentang apakah Indonesia sudah menjadi negara komunis? Soekarno Jawab mari kita naik pesawat helikopter dan lihat ke bawah semua rumah penduduk pagarnya berbentuk huruf K satu menghadap kanan lainnya menghadap kiri kata presiden Rusia baik kita turunkan pesawat dan saya sudah percaya bahwa Indonesia dibawah kepemimpinan Anda sudah menjadi negara komunis.

“warnanya mirip wajah Baladewa” maknanya adalah = warna bendera merah putih (warna merah berarti Baladewa marah-sedangkan warna putih jika Baladewa senang) atau warna merah diambil dari warna bendera Rusia yang tidak memeluk agama, sedangkan warna putih melambangkan bahwa Indonesia adalah negara yang memeluk agama.